Pengolahan Tanaman Gambir

Gambir identik dengan dengan kelengkapan menyirih yang biasa dilakukan penduduk di Sumatera Barat, khususnya di Kabupaten Limapuluh Kota sebagai daerah penghasil gambir terbesar di Indonesia. Namun bukan hal baru bahwa gambir sudah dikenal sejak jaman penjajahan Belanda digunakan sebagai bahan campuran industri farmasi, pangan, kosmetik dan tekstil.

Pengolahan

Bagian tanaman gambir yang diolah adalah daun dan rantingnya. Umumnya petani melakukan panen 2 kali setahun tergantung keadaan pertumbuhan tanaman dan ketuaan daun, bila pertumbuhan baik dan ketuaan daun memenuhi syarat, maka dapat dilakukan 3 kali setahun. Tingkat ketuaan daun gambir saat dipanen berpengaruh pada rendemen dan dan kadar katechin.

Ada kecenderungan daun yang lebih muda memiliki rendemen dan kadar katechin yang lebih tinggi. Kandungan getah pada daun gambir lebih tinggi dibanding pakai ranting. Pengolahan gambir secara tradisional umumnya dilakukan petani melalui enam tahap, yaitu perebusan daun dan ranting, "pengempaan", pengendapan getah, penirisan dan pencetakan, serta pengeringan yang masing-masing dapat diuraikan sebagai berikut: 
  • Perebusan, setelah daun dan ranting ditumpuk dalam keranjang kemudian direbus di atas tungku selama 1-1,5 jam (setiap 30 menit dibalik supaya daun dan ranting terebus sempurna); 
  • Pengepresan/ Pengempaan, selanjutnya daun-daun hasil rebusan itu ditumpuk dan diikat dengan tali sehingga berbentuk buntalan. 
Selanjutnya buntalan berisi daundan ranting gambir matang itu diletakkan di lantai kayu selebar 2 m yang ditopang oleh dua tiang kayu balok sebesar paha orang dewasa. Di atas buntalan itu ia kemudian diletakkan alat pengepresan/pengempaan bertekanan 30 ton. Dengan pengepres itulah daun gambir menghasilkan getah yang menetes ke dalam ember di bawah lantai. 

Para petani/pekebun biasanya untuk melakukan pengepresan memanfatkan jepitan kayu berbentuk huruf V, sehingga daun tertekan dan meneteskan getah; 
  • Pengendapan, selanjutnya getah hasil pengepresan dipindahkan ke paraku atau wadah pengendapan yang terbuat dari kayu (menyerupai perahu). Hasil pengendapan selama 12 jam, getah gambir berubah menjadi pasta encer; 
  • Penirisan dan pencetakan, kemudian pasta encer tersebut ditiriskan dengan menggunakan kain blacu, kemudian dilakukan pengepresan kembali dengan menggunakan penjepit kayu berbentuk huruf V sehingga airnya menetes. Setiap 20 menit, ikatan kain blacu dikencangkan agar tekanan tetap kuat. Tujuan pengepresan ini adalah untuk mengurangi kadar air sehingga pasta menjadi lebih padat. Penirisan berlangsung hingga 20 jam dan berakhir bila pasta gambir tidak mudah pecah saat dicetak. Selanjutnya pasta gambir dilakukan pencetakan dengan menggunakan bambu berdiameter 2-3 cm; dan 
  • Pengeringan, hasil cetakan berbentuk silinder mirip kue putu, kemudian ditata di atas rak bambu dan menjemur di bawah terik matahari. Durasi penjemuran selama 2-3 hari hingga gambir berwarna cokelat kehitaman. Jika mendung atau hujan, gambir dapat dikeringkan di atas tungku. Dari pengolahan 50 kg daun dan ranting gambir, akan diperoleh 4 kg gambir kering siap jual.
Zat kimia yang terdapat pada gambir

Gambir menjadi bahan obat-obatan dan kosmetika karena memiliki komponen kimia sebagai berikut : 
1) Catechin biasanya disebut juga dengan asam catechoat dengan rumus kimia C15H14O6, tidak berwarna, dan dalam keadaan murni sedikit tidak larut dalam air dingin tetapi sangat larut dalam air panas, larut dalam alkohol dan etil asetat, hampir tidak larut dalam koloroform, benzen dan eter; 

2) Asam Catechu Tannat merupakan anhidrat dari catechin, dengan rumus kimia C15H12O5. Apabila catechin dipanaskan pada temperatur 110oC atau dengan cara memanaskan pada larutan alkali karbonat, ia akan kehilangan satu molekul air dan berubah menjadi Asam Catechu Tannat yang berupa serbuk berwarna coklat kemerah-merahan, cepat larut dalam air dingin, alkohol, tidak berwarna dalam larutan timah hitam asetat; 

3) Pyrocatechol merupakan hasil penguraian dari zat lain seperti catechin dengan rumus molekul C6H6O2, bisa larut dalam air, alkohol, eter, benzen, dan kloroform. Jika dipanaskan akan membentuk catechol; membentuk warna hijau dengan FeCl3; membentuk endapan dengan Brom; larutannya dalam air cepat berwarna coklat; dapat mereduksi perak amoniakal dan Fehling; 

4) Gambir Flouresensi merupakan bagian kecil dari gambir dan memberikan flouresensi yang berwarna hijau, dapat dilihat apabila larutan gambir dalam alkohol dikocok dengan petrolium eter dalam suasana sedikit basa; 

5) Catechu Merah yaitu gambir yang memberikan warna merah; 

6) Quersetin adalah suatu zat yang berwarna kuning yang terdapat dalam tumbuh-tumbuhan dan berupa turunan flavonol dengan rumus molekul C15H10O7, disebut huga dengan melatin atau supheretin dan larut dalam asam asetat glasial yang memberikan warna kuning, serta larut dalam air dan alkohol, memberikan warna hijau dengan Fe3+ dan akan berubah menjadi warna gelap dengan pemanasan; 

7) Fixed Oil merupakan minyak yang sukar menguap; 

8) Lilin (malam) terletak pada lapisan permukaan daun gambir. Merupakan monoester dari suatu asam lemak dan alkohol; dan 

9) Alkaloid pada gambir terdapat 7 macam, yaitu dihidro gambir-taninna, gambirdina, gambirtanina, gambirina, isogambirina, auroparina, oksogambirtanin.
Hasil olahan

Dengan kandungan zat kimia tersebut, gambir akan menghasilkan produk yang terdiri atas 2 jenis, yaitu gambir untuk makan sirih dan bahan baku untuk industri. Perbedaan pengolahan ke dua jenis adalah pada cara perebusan. Produk untuk makan sirih perebusannya hanya menggunakan air biasa, sedangkan untuk bahan baku industri menggunakan air yang dicampur dengan air limbah dari penirisan getah gambir selama proses penirisan getah berlangsung serta ditambah zat kimia tertentu sebagai suplement. Oleh karena itu, produk gambir untuk makan sirih kadar katechinnya lebih tinggi (71%), lebih rapuh, bewarna lebih cerah, dan rasanya lebih enak dibanding gambir untuk industri. Air limbah penirisan, banyak mengandung asam lemak yang dapat digunakan sebagai bahan pencelupan tekstil dan penyamakan kulit.

Manfaat Gambir

Gambir pada umunya yaitu dimanfaatkan untuk: 

1) Obat-obatan seperti obat mencret (daunnya), perut mulas, eksema, disentri, radang gusi (getahnya), radang tenggorokan, demam dan batuk; 

2) Antioksidan, seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, gambir mempunyai efek sebagai antioksida. Efek antioksidan tersebut dihubungkan dengan manfaat bagi kesehatan manusia dalam mencegah resiko penyakit degeneratif seperti kanker, jantung, diabetes, dan menghambat efek penuaan dini. Antioksidan juga diaplikasikan untuk memperpanjang masa simpan bahan pangan yang secara alami atau sengaja ditambahkan dalam produk pangan yang rentan terhadap oksidasi; dan 

3) Bahan industri, gambir dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri tekstil, kosmetik, farmasi dan makanan sebagai bahan antioksidan dan antibakteri pada gambir yang sangat potensial untuk dikembangkan dalam memperpanjang masa simpan produk pangan.