Pengolahan Tanaman Jarak Pagar

Saat ini banyak pihak, baik perorangan, perusahaan swasta maupun Negara, Pemda dan kelompok tani telah dihinggapi demam bertanam jarak pagar, karena tanaman ini merupakan salah satu bahan bakar alternative untuk menghasilkan bahan bakar nabati (biofuel). Dengan semakin menipisnya cadangan minyak di perut bumi membuat banyak kalangan berusaha mencari energy alternative terbarukan yang dapat digunakan sebagai substitusi minyak bumi.

Sebelum tahun 2005, tanaman jarak pagar tidak mendapat perhatian khusus di Indonesia. Namun, ditengah krisis BBM yang melanda Indonesia pada tahun 2005, tanaman jarak pagar diingat kembali karena minyak lampunya. Ternyata, minyak nabati dari tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.) dapat diolah menjadi bahan bakar pengganti minyak bumi dan atau energy fosil ( solar, minyak tanah, dan minyak bakar). Jarak pagar dapat menjadi sumber energy (BBM) alternative dan menjadi bahan bakar hayati. Karena dapat beregenerasi, tanaman jarak pagar pengganti minyak nabati bisa disebut dengan sumber energy terbarukan (renewable energy) atau lebih tepatnya energy hijau yang terbarukan (biofuel). Sejak mei 2005 terjadi "demam jarak" di Indonesia. Dinamai demikian karena tanaman ini lazim ditanam di Indonesai sebagai pagar pembatas tanah lading, pagar batas desa, pagar kuburan, bahkan pengganti nisan. Tanaman jarak pagar juga biasa tumbuh liar di tepi jalan. Tanaman ini sering digunakan sebagai pagar karena daunnya tidak disukai hewan ternak (sapi dan kambing) sehingga dapat melindungi tanaman yang ada di bagian dalam pagar.
Tanaman Jarak Pagar
Menurut data Automotif Diesel Oil (ADO), konsumsi bahan bakar minyak Indonesia sejak tahun 1995 telah melebihi produksi dalam negeri dan diperkirakan cadangan minyak Indonesia akan habis dalam kurun waktu 10-15 tahun depan. Untuk menjawab kelangkaan dan keterbatasan energy fosil tersebut, beberapa gerakan telah dicanangkan oleh Presiden RI antara lain program revitalisasi pertanian, perikanan dan kehutanan dengan salah satu fokusnya adalah pengembangan Research and Development (R&D) melalui pemanfaatan biodiesel berbahan baku hasil tanaman di jatiluhur Jawa Barat dan melaksanakan menghematan energy di segala lapisan masyarakat. 

Dalam rangka menjamin pasokan energy dalam negeri, telah diterbitkan Peraturan Presiden RI No. 5 Tahun 2006 tentang kebijakan Energi Nasional. Dalam Peraturan Presiden tersebut antara lain disebutkan bahwa penyediaan biofuel pada tahun 2025 minimal 5% dari kebutuhan energy nasional. Untuk menyiapkan penyediaan biofuel ini, telah dikeluarkan instruksi Presiden No. 1 Tahun 2006, tentang penyediaan dan pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (Biofuel) kepada 13 Menteri, Gubernur dan Bupati/Walikota seluruh Indonesia dan di instruksikan untuk melakukan percepatan penyedian bahan bakar nabati (biofuel) sebagai bahan bakar lain. 

Oleh karena itu, pengembangan tanaman penghasilan minyak nabatisebagai bahan baku bahan bakar nabati harus segera diupayakan. Komoditas perkebunan penghasil minyak nabati cukup tersedia, seperti kelapa sawit, kelapa, kemiri, jarak pagar dan lain-lain. Namun mengingat minyak kelapa sawit dan kelapa merupakan minyak makan (edible oil), maka jarak pagar mempunyaio peluang yang sangat besar terutama pada lahan-lahan marginal. Kebijakan Pemerintah Menurut data Automotif Diesel Oil (ADO), konsumsi bahan bakar minyak Indonesia sejak tahun 1995 telah melebihi produksi dalam negeri dan diperkirakan cadangan minyak Indonesia akan habis dalam kurun waktu 10-15 tahun depan. Untuk menjawab kelangkaan dan keterbatasan energy fosil tersebut, beberapa gerakan telah dicanangkan oleh Presiden RI antara lain program revitalisasi pertanian,perikanan dan kehutanan dengan salah satu fokusnya adalah pengembangan

Research and Development (R&D) melalui pemanfaatan biodiesel berbahan baku hasil tanaman di jatiluhur Jawa Barat dan melaksanakan menghematan energy di segala lapisan masyarakat. Dalam rangka menjamin pasokan energy dalam negeri, telah diterbitkan Peraturan Presiden RI No. 5 Tahun 2006 tentang kebijakan Energi Nasional. Dalam Peraturan Presiden tersebut antara lain disebutkan bahwa penyediaan biofuel pada tahun 2025 minimal 5% dari kebutuhan energy nasional. Untuk menyiapkan penyediaan biofuel ini, telah dikeluarkan instruksi Presiden No. 1 Tahun 2006, tentang penyediaan dan pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (Biofuel) kepada 13 Menteri, Gubernur dan Bupati/Walikota seluruh Indonesia dan di instruksikan untuk melakukan percepatan penyedian bahan bakar nabati (biofuel) sebagai bahan bakar lain. 

Oleh karena itu, pengembangan tanaman penghasilan minyak nabati sebagai bahan baku bahan bakar nabati harus segera diupayakan. Komoditas perkebunan penghasil minyak nabati cukup tersedia, seperti kelapa sawit, kelapa, kemiri, jarak pagar dan lain-lain. Namun mengingat minyak kelapa sawit dan kelapa merupakan minyak makan (edible oil), maka jarak pagar mempunyaio peluang yang sangat besar terutama pada lahan-lahan marginal. ( Penulis: Nanik Anggoro P, SP / Penyuluh Pertanian Pertama BBP2TP

Tanaman jarak pagar dikenal sebagai tanaman penghasil minyak lampu. Jarak pagar (Jatropha curcas L.) sebagai sumber potensial bahan bakar nabati mempunyai beberapa keunggulan yaitu: 
  1. Relative mudah dibudidayakan oleh petani kecil, dapat ditanam sebagai batas kebun, ditanam secara monokultur atau campuran, cocok di daerah beriklim kering, sebagai tanaman konservasi lahan, dapat tumbuh di lahan marginal dan juga dapat ditanam di lahan pekarangan, 
  2. Pemanfaatan biji atau minyak jarak pagar tidak berkompetisi dengan penggunaan lain seperti CPO dengan minyak makan atau industry oleokimia, sehingga harganya diharapkan relative stabil, 
  3. Proses pengolahan minyak jarak pagar untuk kebutuhan rumah tangga pengganti minyak tanah dan untuk pembakaran tungku sangat sederhana, sehingga dapat dimanfaatkan sampai daerah terpencil. Disamping itu pengolahan untuk bahan bakar pengganti minyak solar juga tidak memerlukan teknologi tinggi, sehingga biaya investasinya relative murah. Dengan demikian peluang untuk pengembangan jarak pagar masih terbuka luas. Untuk keberhasilan pengembangan jarak pagar masih terbuka luas. 
Jarak pagar dapat tumbuh pada tanah-tanah yang ketersediaan air dan unsure haranya terbatas atau lahan-lahan marginal. Namun demikian lahan dengan air yang tidak tergenang merupakan tempat yang optimal. Bila perakarannya sudah cukup berkembang, jarak pagar dapat toleran terhadap tanah-tanah masam, terbaik pada pH 5,5-6,5. Curah hujan tidak kurang dari 600 mm/tahun. Bahan tanaman jarak pagar bisa berasal dari biji ataupun setek

Tanaman Jarak Pagar
Manfaat Jarak Pagar secara Ekologi

Pada dasarnya jarak pagar dapat dimanfaatkan sebagai biofuel dan tanaman obat. Jarak pagar bisa ditanam di lahan marginal atau di lahan kritis. Cocok juga untuk program reboisasi atau penghijauan. Lahan marginal dan kritis, biasanya kekurangan air. Sementara jarak pagar tahan terhadap stres air sehingga cocok ditanam di daerah yang kurang air. Pada musim kemarau tanaman jarak pagar akan menggugurkan daunnya, tetapi akarnya tetap mampu menahan air dan tanah. Karena itu, jarak pagar bisa disebut tanaman pioneer, tanaman penahan erosi, dan tanaman yang dapat mengurangi kecepatan angin. Akar lateralnya yang menyebar di permukaan tanah, jika ditanam bersama tanaman akar wangi atau serai wangi akan mampu melindungi tanggul kecil dari kerusakan erosi akibat aliran air permukaan. Upaya penghijauan dengan jarak pagar sangat bermanfaat untuk menyerap polusi udara. Kemampuan jarak pagar menyerap gas kanbondioksida dari atmosfer cukup tinggi, sebesar 1,8 kg/kg bagian kering tanaman.

Tingkat Kemasakan Buah Jarak 

Buah muda ditandai dengan kulit buah berwarna hijau muda, biji berwarna putih, daging biji belum terbentuk masih berupa air yang keruh, biji ini belum mengandung minyak. Buah setengah tua ditandai dengan kulit buah yang berwarna hijau, kulit biji berwarna coklat muda keputih-putihan, daging biji telah terbentuk namun masih lunak, biji juga belum mengandung minyak. Buah tua, ditandai dengan kulit buah berwarna hijau tua, biji berwarna hitam dank eras, biji telah mengandung minya walaupun masih rendah. Buah masak kulit buah berwarna kuning sampai hitam, biji telah berwarna hitam mengkilat dank eras, kandungan minyak paling tinggi. Buah lewat masak, buah telah kering atau jatuh, tergantung pada kondisi lingkungan, jika kondisi kering maka buah dapat tergantung di pohon selama 2-3 bulan ditandai dengan kulit buah telah mongering dengan warna coklat kehitaman. Sedang jika kondisi basah, buah akan jatuh dan berkecambah, kondisi demikian kandungan minyak sangat rendah.

Kandungan Minyak jarak Pagar

Buah berwarna kuning mempunyai kandungan minyak sebesar 30,32%. Buah berwarna hitam memiliki kandungan minyak sebesar 31,47%. Tiga tingkat buah tua dengan kulit berwarna hijau tua dan biji berwarna hitam memiliki kandungan minyak sebesar 20,70%.

Pemanenan Buah dan Pengolahan

Tanaman jarak pagar sudah dapat dipanen mulai berumur 4-5 bulan setelah tanam dan dapat dipanen terus menerus sampai umur 50 tahun. Jika ditanam pada kondisi optimal jarak pagar dapat dipanen 3 sampai 4 kali dalam setahun. Kriteria buah yang dapat dipanen sangat tergantung pada jenis pemanfaatannya. Untuk pemanfaatan sebagai benih, buah jarak pagar yang dipanen harus sudah matang dengan kulit buah berwarna kuning. Untuk pemanfaatan sebagai sumber energy dalam menghasilkan JCO buah dapat dipanen sekaligus pada berbagai tingkat kemasan buah. Namun demikian, buah jarak pagar yang memiliki kandungan minyak tertinggi adalah yang berwarna hitam baik kulit maupun bijinya.

Tahapan pemanenan terdiri dari pemetikan buah/kapsul yang sudah matang dari pohon, pengumpulan kapsul dari areal pertanaman ke tempat prosesing, sortasi kapsul jarak pagar sesuai dengan jenis pemanfaatannya, seperti untuk sumber benih maupun untuk produksi JCO. Biji yang telah dipanen dikeringanginkan kemudian dikupas secara manual guna memisahkan bijidari kulitnya. Biji yang telah dikupas langsung dipecah untuk memisahkan tempurung biji dengan daging biji, kemudian dikeringkan dan dipres menggunakan mesin pengepres untuk mendapatkan minyak. Minyak yang masih kotor dimurnikan. Untuk menghasilkan biodiesel, minyak yang telah dimurnikan dicampur dengan methanol atau etanol guna mengurangi viskositas (kekentalan) dan meningkatkan daya pembakaran. 

Biji jarak yang telah dipanen harus segera diolah, karena penyimpanan akan menurunkan rendemen. Pengolahan lebih lanjut terhadap minyak jarak pagar menjadi biodesel melalui proses transesterifikasi dengan menggunakan methanol bertujuan agar minyak tersebut dapat digunakan sesuai standar minyak diesel. Proses ini juga bertujuan untuk mengurangi kekentalan minyak dan meningkatkan daya pembakaran, dengan mengubah trigliserida menjadi metal ester (biodiesel) dan gliserin. Masing-masing bagian tumbuhan seperti cabang pohon, buah, biji mempunyai potensi menghasilkan bahan bakar untuk memasak, penerangan dan digunakan dalam sector industry. Penggunaan minyak tumbuhan sebagai bahan bakar untuk memasak di pedesaan adalah untuk menggantikan kayu bakar dan sebagai bahan bakar untuk penggerak generator (straight jatropha oil).

Minyak jarak pagar (Crude Jatropha Curcas Oil) terbuat dari daging buah (kernel) Jatropha curcas. Para peneliti menyebutnya minyak jarak alami ini dengan nama straight vegetable oil(SVO), unmodified vegetable oil, atau straight jatropha oil (SJO).

Pemanfaatan minyak jarak alami (CJCO)

Minyak jarak alami berpotensi sebagai pengganti minyak tanah (kerosin) untuk memasak di dapur. Namun, desain kompor minyak tanah yang lazim digunakan di dapur harus diubah karena kekntalan CJCO cukup tinggi sehingga sumbu kompor tidak mampu mengisap CJCO. Karena itu, sumbu kompor harus diganti dengan sumbu yang terbuat dari bahan khusus. Jika menggunakan kompor bertekanan udara seperti yang digunakan oleh para penjual gorengan di tepi jalan, CJCO dapat langsung digunakan sebagai pengganti minyak tanah. Seandainya terdapat 10% dari 40 juta rumah di pedesaan Indonesia ditanami Jatropha curcas sebagai pagar rumah dengan panjang pagar 40 meter, berarti akan ada pagar sepanjang 160 juta meter atau 160.000 km. Minyak CJCO banyak berperan di dunia perindustrian. Minyak jarak alami (CJCO) berpotensi menggantikan minyak bakar atau minya residu (IDO) pada biler pembangkit tenaga uap. Potensi ini sekarang yang sedang diupayakan oleh PT RNI agar dapat menghemat penggunaan 10 juta liter IDO untuk Sembilan buah pabrik gulanya. Minyak kasar juga bisa digunakan pada berbagai pompa air.

Sumber : 
  • Memproduksi Biodiesel Jarak Pagar oleh Prof. Dr R Sudrajat. MSc, Penebar Swadaya 2006; 
  • Petunjuk Budidaya Jarak Pagar oleh Rama Prihandana dan Roy Hendroko, Agromedia 2006; 
  • Teknik Budidaya Jarak Pagar, Badan Litbang Pertanian 2008)