Pengolahan Tanaman Kenaf Menjadi Serat

Tahapan pengolahan batang kenaf menjadi serat untuk bahan karung atau material campuran pembuatan komposit meliputi: panen, perendaman, pemisahan serat dari kayu, pencucian dan pengeringan. Perendaman merupakan tahapan terpenting dalam pengolahan serat.

Panen: Waktu panen kenaf harus tepat karena bila dilakukan lebih awal akan menghasilkan serat yang rapuh dengan rendemen rendah, dan bila lewat waktu akan menambah waktu perendaman, menghasilkan serat yang rapuh, kekuatan serat menurun, meskipun produktivitas serat meningkat. Panen dilakukan apabila bunga ke sepuluh dari 50% populasi bunga telah mekar. Panen dilakukan dengan cara ; 
  • Memotong pangkal batang pada ketinggian sekitar 5-10 cm dari permukaan tanah, 
  • Memotong batang tepat di atas permukaan tanah, 
  • Mencabut batang dari tanah. Dari ketiga cara tersebut, cara ke dua memberikan hasil terbaik.
Tanaman Kenaf
Perendaman: Tempat perendaman dapat berupa parit, atau tempat perendaman yang dibuat dengan meninggikan pematang di daerah pertanaman kenaf. Ikatan batang kenaf diletakkan di dasar kolam, sebagian ujungnya ditindih bagian pangkal batang yang lain, dan lakukan penumpukan hingga 3-5 ikat batang. Tindihlah batang yang direndam dengan batang pisang, batu atau lainnya. Perendaman dilakukan 14-20 hari, hingga kulit mudah dilepas dari batang, dan kulit telah berubah menjadi serat yang terurai satu dengan yang lain baik di pangkal maupun di ujung.

Terdapat tiga kategori kamasakan, yaitu: 

1). Tepat masak yaitu serat yang dicuci tepat pada waktunya, serat yang dihasilkan seragam mulai dari ujung hingga pangkal. Serat kering yang dihasilkan berwarna putih, lemas, bebas dari sisa kulit batang (kliko). 

2). Lewat masak yaitu serat yang sebenarnya sudah siap untuk dicuci, namun perendaman masih dilanjutkan terus karena bagian pangkal batang belum terurai sempurna menjadi helaian serat. Hal ini akan berakibat serat menjadi rapuh, baik pada saat dicuci maupun setelah kering. 

3). Kurang masak yaitu serat yang belum masak telah dikeluarkan dari kolam perendaman untuk dicuci dan dikeringkan. Tanda serat yang kurang masak adalah serat kurang bersih dari sisa-sisa jaringan antar serat, seratnya kaku meskipun telah kelihatan bersih dan seratnya tidak dapat terurai menjadi helaian.

Pencucian serat: Pencucian serat dilakukan di sungai-sungai atau di kolam perendaman. Serat hasil rendaman harus dicuci bersih. Pada retting kulit batang yang dihasilkan dari proses dekortikasi (batang hancur), ada kesulitan dalam pencucian serat. Hal ini disebabkan ada sisa-sisa batang yang melekat pada serat. Sisa-sisa batang ini harus dihilangkan karena dapat mempengaruhi kualitas serat.

Pengerigan dan Penyimpanan Serat:

Pengeringan dilakukan dengan menjemur di terik matahari, dilakukan dilapang atau di halaman rumah. Serat hasil cucian diletakkan di atas para-para yang dibuat dari batang bambu. Bila sinar matahari cukup, serat akan kering dalam waktu 3-5 hari. Bila serat makin bersih, waktu penjemuran makin singkat.

Pemilahan berdasar mutu dan pengebalan: Sebelum disimpan, setiap golongan mutu serat dibal terlebih dahulu . Setiap bal berisi 30 ikatan serat dengan berat setiap ikatan ± 1 kg. 

Syarat Ruang Penyimpanan: 
  • Atap tidak bocor; 
  • Tidak tembus cahaya matahari, baik atap maupun dindingnya; 
  • Sirkulasi udara dalam gudang cukup baik agar gudang tidak lembab; 
  • Suhu gudang antara 20o-30oC; 
  • Diberi alas setinggi ± 10 cm agar serat bagian bawah tidak lembab; 
  • Jauh dari sumber api.
Kondisi serat dalam penyimpanan: 
  • Serat ditumpuk menurut kelas mutu serat; 
  • Masing-masing mutu serat diberi label untuk menghindari kekeliruan dalam pengambilan serat; 
  • Kadar air serat maksimal 13 %.
Kualitas serat: Serat yang telah kering kemudian di pisah-pisahkan sesuai dengan keadaan fisik serat tersebut. Serat dapat digunakan untuk pembuatan karung goni hingga sebagai bahan baku interior mobil, maka perlu dibedakan antara kualitas serat untuk pembuatan karung dan untuk bahan baku interior mobil.

Penggolongan serat untuk bahan baku pembuatan karung: 
  • Kualitas A: warna putih mengkilap, bebas dari akar, kulit serta kotoran lainnya, dan panjang minimal 150 cm. 
  • Kualitas B: Warna putih kecokelat-cokelatan, mengkilap, bebas dari akar dan kulit, kliko, dan panjang serat minimal 125 cm;
  • Kualitas C: Warna cokelat gelap, mengandung akar, kulit, kotoran atau kliko maksimal 7%, dan panjang serat minimal 100 cm.
Pada serat yang akan digunakan untuk bahan interior mobil, panjang serat bukan merupakan syarat utama, karena serat tersebut akan dipotong-potong menjadi potongan kecil sepanjang 7 cm saja. Persyaratan mutlak yang harus dipenuhi bila digunakan sebagai bahan baku interior mobil adalah kulit telah 100% menjadi helaian serat elementer. Serat yang masih tercampur kotoran, sisa kulit, dan kotoran lain akan menyulitkan proses pembuatan serat sebagai bahan baku interior mobil. Persyaratan lain: Bau serat sebagai proses retting harus serendah mungkin, karena bau serat ini akan terbawa terus sampai serat diolah menjadi bahan baku interior mobil.

Bila seluruh air perendaman diganti dengan air baru setiap 2-3 hari menyebabkan waktu retting bertambah satu hari dibandingkan dengan bila tidak diganti, disamping itu kualitas serat juga lebih jelek. Penggunaan air rendaman yang mengalir akan memberikan hasil lebih baik dari pada penggantian air seluruhnya atau perendaman pada air tergenang, karena air yang mengalir perlahan akan membuang hasil-hasil perombakan jaringan antar serat, tetapi tidak atau sedikit mengurangi populasi bakteri yang berperan dalam proses retting. 

Sumber: 
  • Monograf Balittas. KENAF (Hibiscus cannabinus L.) Departemen Pertanian. 
  • Badan Penelitian dan Pegembangan Pertanian. 
  • Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan. Balai Penelitia Tanaman Tembakau dan Serat. 2009.