Teknologi Proses Pembuatan Kopra Kelapa

Daging buah kelapa (endosperm) yang sudah dikeringkan dinamakan kopra. Proses pembuatan kopra yaitu proses mengeringkan buah kelapa. Tahap-tahap pengeringan untuk mendapatkan kopra bermutu baik, yaitu :

  • kadar air daging buah kelapa segar yang besarnya 50-55% pada periode 24 jam pertama dapat diturunkan menjadi 35%, 
  • pada periode 24 jam kedua, kadar air tersebut diturunkan menjadi 20%, dan 
  • pada periode 24 jam berikutnya diturunkan menjadi 5-6%.
Metode umum pembuatan kopra terdiri atas tiga cara, yaitu :

  • pengeringan dengan sinar matahari, 
  • pengeringan dengan bara atau pengapasan di atas api, dan 
  • pengeringan dengan pemanasan tidak langsung. Dalam praktek ketiga caradi atas sering dikombinasikan untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.
Teknologi Proses Pembuatan Kopra Kelapa
a. Pengeringan dengan sinar matahari

Buah kelapa segar atau yang sudah disimpan dikupas dan dibelah menjadi dua, kemudian dijemur pada posisi miring/tengkurap untuk membuang air kelapa. Setelah airnya kering, belahan kelapa tersebut dijemur pada posisi telentang. Setelah penjemuran 2-3 hari, daging buah dan tempurung kelapa dipisahkan, kemudian penjemuran dilanjutkan tanpa tempurung kelapa selama ±5 hari lagi. Untuk mendapatkan kopra dengan mutu baik, dibutuhkan cuaca kering minimal 5 hari berturut-turut. Kopra yang dikeringkan dengan sinar matahari disebut kopra kering matahari atau dalam dunia perdagangan dikenal dengan copra sundried.

Untuk mencegah kopra tidak kotor selama pengeringan, yaitu dengan membuat tempat penjemuran dari bedebgan bamboo, rak, atau dijemur di atas lantai semen. Umumnya tidak seluruh proses pembuatan kopra dilakukan dengan penjemuran, seringkali akhirnya pengeringan dilanjutkan dengan alat pengering. Dengan cara ini diperoleh keuntungan bahwa buah kelapa yang bagian permukaannya sudah kering tidak mudah kotor jika diasapi, dan pengasapan tersebut memberikan daya tahan terhadap kebusukan serta waktu pengeringan lebih singkat.

b. Pengeringan dengan bara atau pengasapan

Daging kelapa dikeringkan secara langsung oleh panas pembakaran dan asap pembakaran. Bahan bakar yang digunakan tempurung kelapa. Kopra yang dihasilkan dengan cara ini berbau asap dan bermutu rendah. Alat pengering yang dengan cara pengasapan dinamakan copra kiln atau smoke kiln (rumah asap).

Proses pemanasan pada copra kiln, yaitu api memanaskan udara, kemudian udara panas melalui tumpukan daging buah kelapa dan membawa uap air keluar dari daging buah. Bila tumpukan terlalu tinggi menyebabkan udara yang sampai pada lapisan paling atas sudah terlalu dingin sehingga melepaskan airnya atau berkondensasi. Hal ini menyebabkan kelapa pada lapisan atas akan tetap basah lalu membusuk, sedangkan kelapa di bagian bawah akan gosong, dan terjadi case hardening. Case hardening terjadi pada pengeringan dimana bagian luar daging buah sudah kering dan menjadi keras bahkan sampai gosong, sedang bagian dalamnya masih basah. Kopra yang mengalami case hardeningjika disimpan akan cepat busuk. Perpindahan panas pada copra kiln tidak merata ke seluruh bahan, tetapi mengumpul di tempat yang berada di atas api. Untuk mendapatkan panas yang merata,maka selama pengeringan posisi belahan daging kelapa harus diubah-ubah.

c. Pengeringan dengan pemanasan tidak langsung

Pada proses ini tidak terjadi hubungan langsung antara daging buah dengan api dan gas pembakaran. Daging buah kelapa ditumpuk di atas lempengan logam, lalu dikeringkan dengan memanaskan logam tersebut dari bawah atau dimasukkan ke dalam ruang tertutup dan kemudian dipanaskan memakai sistem pipa udara.

Berdasarkan sistem pemuatan bahan dan pengeluaran kopra yang dikeringkan, maka alat pengering ini dibedakan antara yang bekerja secara kontinyu dan tidak kontinyu. Persyaratan umum yang diperluakn oleh alat pengering kopra dengan pemanasan tidak langsung, diantaranya aalah : 
  • Memakai bahan bakar yang murah dan mudah tersedia, 
  • Memberikan pemanasan yang seragam selama pengeringan, 
  • Pengawasan aliran udara dan suhu yang baik, 
  • Mudah bongkar muat, 
  • Memiliki perlengakpan untuk mengukur variasi muatan, 
  • Carakerja sederhana untuk mengurangi biaya, dan 7) konstruksi alat murah dan menggunakan bahan-bahan yang standar.
Perbaikan yang dilakukan pada pembuatan kopra dengan sistem pengeringan buatan antara lain, yaitu denagn mengiris daging buah menjadi lempengan-lempengan tipis lalu dikeringkan. Pencegahan case hardening dapat dilakukan dengan cara : 
  1. Menurunkan suhu udara panas secara bertahap selama proses pengeringan, dan 
  2. Menurunkan kelengasan udara selama tahap terakhir proses pengeringan. 
Cara yang kedua merupakan cara terbaik. Untuk mencegah case hardening dan mempercepat proses pengeringan, maka pada tahap 12 jam pertama dari pengeringan dipakai udara panas dengan kelembaban nisbi 35% dan pada akhir pengeringan dipakai kelembaban nisbi sebesar 20%. Suhu udara panas yang digunakan yaitu 77°C.